Media Lupa Misi Idiil Pers

images

BANDUNG, (PR).-
Dari lebih kurang 889 media cetak, 2.000 media radio, dan 110 media tv di Indonesia, sebagian di antaranya tidak mentaati lima fungsi pers. Sejumlah media bahkan melupakan misi idiil pers, dan menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan.

Sejumlah televisi swasta komersial Jakarta mengutamakan misi untuk meraih keuntungan sehingga mengorbankan fungsi edukasi dan mengedepankan hiburan yang bukan menambah kualitas kehidupan. Misi bisnisnya menyajikan konsep produk dengan menyajikan program-program yang aktratif bagi khalayak.

Wakil Ketua Dewan Pers Leo Batubara mengungkapkan itu dalam diskusi akhir tahun yang diselenggarakan kerja sama BS TV Watch, Bandung Spirit, dan Dewan Pers, di Hotel Panghegar, Rabu (26/12). Diskusi menghadirkan pembicara lainnya Prof. M.T. Zen dan Askurifai Baksin, turut hadir Ketua Dewan Pers Prof. Ichlasul Amal, M.A. serta Ketua Dewan Pembina BS TV Watch Acil Bimbo.

"Atraktif tidaknya siaran diukur tinggi rendahnya peringkat acara. Peringkat menjadi barometer dukungan pengiklan. Celakanya, demi peringkat, yang menentukan bukan kualitas siaran yang berisi pencerdasan, bukan hiburan yang bermutu, tetapi sinetron yang menjadi mimpi-mimpi dan membodohi, asal meningkatkan rating," tuturnya.

Menurut dia, program yang efektif meningkatkan rating antara lain, seputar paha dan buah dada, kekerasan, kriminalitas, mistik-hantu serta takhayul, infotainment berisi sekitar gosip yang tak berdasar, melegitimiasi perselingkuhan dan kumpul kebo serta gaya hidup mewah dan konsumtif yang permisif dan hedonistis.

Banalisasi

Menurut Askurifai, kini terjadi banalisasi di media massa. Banalisasi dapat diartikan sebagai proses penggampangan suatu hal sehingga lama-kelamaan yang tadinya penting menjadi tidak penting, agung menjadi remeh, sakral menjadi tidak sakral. Ini sudah banyak terjadi pada tayangan televisi di Indonesia.

"Acara keagamaan yang harusnya serius, hikmat, penuh perenungan, di TV menjadi hiburan yang membuat orang terpingkal-pingkal sampai lupa dengan nilai dakwah yang disampaikan. Lewat tayangan sinetron persoalan agama begitu sumir dan dangkal. Setan dan iblis hanya bisa dikalahkan oleh kiai dengan jubah dan tasbih putih, seolah kiai hanya berurusan dengan dedemit dan jin belaka," ujarnya.

Acil Bimbo mengatakan, penyelengaraan diskusi akhir tahun ini sekaligus evaluasi terhadap kondisi media pertelevisian di Indonesia yang kini justru tercerabut dari nilai-nilai budaya, juga tidak pernah mengangkat potensi tradisi lokal jenius yang ada di Indonesia. Hak masyarakat dalam menerima informasi seolah diselewengkan. Masyarakat dibombardir kebudayaan audio visual yang melenceng.

"Apa jadinya jika media penuh dengan berita menyesatkan, tidak menyampaikan informasi yang sesungguhnya kepada masyarakat, mengabaikan hak publik mendapatkan informasi dan menyajikan hiburan yang tak sehat bagi masyarakat daripada menyampaikan informasi yang mengandung pendidikan atau informasi berguna lainnya. Kita tidak tahu siapa itu Rendra, Sardono, kekayaan seni budaya di Indonesia, hingga lupa lagu ’Rasa Sayange’ itu ternyata milik kita," ujar Acil. (A-73)***

 

Harian Pikiran Rakyat, 27 Desember 2007
By Administrator| 27 Desember 2007 | berita |