Dewan Pers Bahas Revisi Uu Hak Cipta
JAKARTA – Dewan Pers menggelar forum dengar pendapat mengenai revisi Undang-Undang Hak Cipta yang berkaitan dengan karya jurnalistik di Hall Dewan Pers, Jakarta, Kamis (11/6/2026). Kegiatan ini dihadiri anggota Dewan Pers serta berbagai organisasi konstituen pers untuk membahas perlindungan dan masa depan karya jurnalistik di tengah perkembangan teknologi dan industri media.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, mengatakan kondisi yang saat ini dihadapi industri pers dapat dipahami melalui konsep yang ia sebut sebagai "Entropi Sosial", yakni situasi penuh tantangan yang pada akhirnya dapat melahirkan keteraturan dan kemajuan baru.
"Saya menulis sebuah artikel berjudul Entropi Sosial. Dalam ilmu fisika, entropi menggambarkan perubahan dari kondisi yang teratur menuju kekacauan. Namun dari kekacauan itu kemudian lahir keteraturan baru," ujar Komaruddin.
Menurut Komaruddin, proses tersebut juga terlihat dalam perjalanan berbagai bangsa yang pernah mengalami masa sulit sebelum akhirnya bangkit menjadi negara maju.
"Ethiopia yang dulu dikenal miskin kini menunjukkan kemajuan. Afrika Selatan berhasil keluar dari apartheid. Korea Selatan yang dahulu tertinggal kini menjadi kekuatan ekonomi dan teknologi dunia. Jerman pun mampu bangkit setelah kehancuran akibat perang," katanya.
Ia menilai sejarah menunjukkan bahwa berbagai krisis sering kali menjadi titik awal munculnya kreativitas, inovasi, dan solusi baru.
"Dari situasi yang kacau biasanya lahir gagasan-gagasan segar. Ketika masyarakat menghadapi tantangan, di situlah kreativitas tumbuh untuk mencari jalan keluar," ujarnya.
Komaruddin mengibaratkan kondisi tersebut seperti air keruh yang diaduk. Pada awalnya terlihat kacau, namun seiring waktu endapan akan turun dan menghasilkan kejernihan.
"Kalau lumpur diaduk, awalnya semuanya tampak keruh. Tetapi ketika endapan mulai turun, air menjadi jernih. Dalam kehidupan sosial juga demikian. Setelah masa penuh gejolak biasanya muncul tatanan baru yang lebih baik," kata Komaruddin.
Dalam konteks industri pers, ia meyakini berbagai tantangan yang muncul akibat disrupsi teknologi dan perubahan model bisnis media harus dihadapi dengan optimisme dan inovasi.
"Di ujung terowongan selalu ada cahaya. There is always a light at the end of the tunnel. Karena itu kita harus terus mencari solusi dan inovasi untuk memperkuat masa depan pers," ujarnya.
Komaruddin juga mengapresiasi daya tahan insan pers yang selama ini terus beradaptasi menghadapi perubahan.
"Saya melihat teman-teman pers memiliki resiliensi yang luar biasa. Mereka mampu beradaptasi dengan berbagai situasi yang tidak mudah dan tetap menjalankan fungsi jurnalistiknya," katanya.
Menurut Komaruddin, Dewan Pers bersama berbagai pemangku kepentingan saat ini tengah merancang sejumlah langkah dan inovasi untuk memperkuat ekosistem pers nasional.
"Minggu-minggu ini kami sedang serius merintis berbagai inovasi dan solusi yang diharapkan dapat berkembang menjadi langkah besar bagi masa depan pers Indonesia," ujar Komaruddin.
Forum dengar pendapat ini diikuti seluruh anggota Dewan Pers serta perwakilan organisasi konstituen pers, di antaranya PWI, IJTI, PFI, PRSSNI, AMSI, SPS, dan sejumlah organisasi pers lainnya. Masukan yang dihimpun dalam forum tersebut akan menjadi bagian dari upaya memperkuat perlindungan karya jurnalistik dalam revisi Undang-Undang Hak Cipta sekaligus menjaga keberlanjutan industri pers nasional.(*)