Suara-Suara Gaung Penjaga Demokrasi: Homeless Media Lebih Menarik, Kenapa?

Suara-Suara Gaung Penjaga Demokrasi: Homeless Media Lebih Menarik, Kenapa?

Jakarta, 15 September 2025 – Apa dampak digital culture bagi pers mainstream? Apakah jadi mitra atau justru mengancam pers mainstream? Apa dampaknya bagi demokrasi karena salah satu fungsi pers menjadi watchdog?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam podcast Suara-suara Gaung Penjaga Demokrasi yang diselenggarakan oleh Dewan Pers dengan menghadirkan Ketua Dewan Pers Komarudin Hidayat dan Akademisi Ekonom Prof Rhenald Kasali, seorang pakar dan peneliti sosial dari Universitas Indonesia.

Seperti yang diketahui, Indonesia tengah menghadapi perubahan budaya dalam menyampaikan informasi dan pendapat ke era digital. Kasali mengatakan digitalisasi menghadirkan disrupsi atau perubahan dalam setiap lini kehidupan, mulai dari perilaku manusia, hubungan antar-manusia, jenis informasi yang didapat, dan bahkan mengubah tatanan ekonomi.

Dia mengutip pernyataan sosiolog Jerman, Jurgen Habermas, bahwa manusia memerlukan ruang publik yang rasional. Namun, pada kenyataannya manusia adalah sosok yang lengkap, ada rasionalnya dan ada pula irasionalnya.

Dunia pers lama selalu berusaha menyajikan hal-hal rasional. Dia mencontohkan kasus seorang ibu yang tengah hamil, mengaku bayinya dapat mengaji dari kandungan. Dulu, bayi ini disebut sebagai bayi ajaib. Namun, Koran Pos Kota mencoba mencari fakta rasional di balik peristiwa itu, sehingga pada akhirnya terbongkar wanita tersebut adalah bohong.

“Jadi ruang publik ini sehat, rasional. Tapi manusia itu juga senang dengan gosip, kejadian-kejadian gaib, kesasar di hutan padahal pakai GPS, katanya disesatin mahkluk halus. Nah, kemudian ini diisi oleh media baru, homeless media. Sebelumnya ada online media,” tutur Kasali.

Homeless media ini tercipta saat media sosial meraja. Semua orang menjadi sadar kamera. Tim sukses partai dan pejabat memilih membuat konten sendiri di media sosial. Kemudian, muncul anak-anak muda yang tidak pernah bekerja di pers mainstream sebelumnya tapi mereka membuat homeless media di medsos.

“Homeless media ini menarik karena banyak Gen Z yang memulainya. Tapi di luar mereka, mengambil berita dari mana mereka analisa, bisa menyajikan emosi, kedalaman, juga bisa menyampaikan hoaks, bisa memverifikasi hoaks, dan ini belum selesai, ada yang namanya influencer. Bukan bagian dari media, tapi mereka punya kanal dan tahu cara mencari uang,” kata Kasali.

Siapa yang Untung?

Pertanyaan dari Komarudin Hidayat ini menggelitik pembicaraan dalam podcast Dewan Pers.

Kasali menjawab, dengan adanya dunia digital ini memunculkan “putra mahkota digital” jadi “kaisar-kaisar digital”. Mereka inilah yang bisa mengendalikan teknologi ini. “Makanya mereka menjadi influencer papan atas. Yang diuntungkan siapa? Ya, mereka yang bisa menggunakan dunia ini, entah itu influencer atau mereka yang melakukan selling dunia digital. Lihat saja Elon Musk,” ujar Kasali.

Menurut dia, siapapun termasuk profesor seperti Komarudin Hidayat, dapat menjadi kaisar digital. Namun, kenyataannya, tidak banyak orang yang mau mengikuti akun-akun profesional. Kenapa? Sebab, akun profesional menyajikan topik dengan aspek menyeluruh. Berbeda dengan homeless media yang fokus pada satu aspek, misalkan emosi. 

Oleh karena itu, lanjut dia, pemerintah harus hadir untuk mengatur dunia digital.