Potensi Kekerasan Diprediksi Meningkat

Potensi Kekerasan Diprediksi Meningkat
09 Februari 2011 | Administrator

Kupang, Kompas - Dimensi persoalan terhadap pers makin meluas dan terus mengancam kebebasan pers. Ancaman kekerasan terhadap wartawan diprediksi terus meningkat terkait reformasi di bidang politik dan demokrasi.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pers Bagir Manan di Kupang, NTT, Senin (7/2). Ancaman terhadap insan pers datang dari luar, berupa dari pengusaha atau perusahaan, dan dari dalam, yakni perilaku insan pers. Tuntutan kebutuhan hidup yang tinggi cenderung membawa insan pers bertindak melanggar kode etik, seperti pemerasan, berita tendensius, atau bersekongkol dengan pejabat atau pengusaha.

Ketua Komisi Pengaduan Masyarakat dan Penegakan Etika Dewan Pers Agus Sudibyo menyebutkan, selama 2010, Dewan Pers menerima 513 pengaduan. Semakin banyak pengaduan, semakin tinggi kepercayaan masyarakat terhadap Dewan Pers dan Undang-Undang Pers. Semestinya kepercayaan ini berdampak positif pada penurunan potensi kriminalisasi terhadap wartawan.

Menurut Agus, dari semua kasus yang ditangani Dewan Pers, sebanyak 80 persen diakhiri dengan keputusan pelanggaran kode etik yang dilakukan media bersangkutan.

Dalam diskusi di Jakarta, Minggu, peneliti media di Lembaga Studi Pers dan Pembangunan, Ignatius Haryanto, menyatakan, sensor selalu terjadi di media massa. Zaman Orde Baru sensor dilakukan karena negara mengungkung kebebasan pers. Saat ini sensor akibat kepentingan pemilik modal.

Beberapa tahun ini, pengusaha papan atas berbondong-bondong masuk ke industri media. Motifnya, selain mencari untung, tentu menjadi alat pembentuk opini. Ada pula media massa yang menjadi semacam humas atas perusahaan tertentu. (KOR/INA)

 

Sumber: Harian Kompas, Selasa, 8 Februari 2011.


Download